Blog Busana Muslim Kasual

Pusat Informasi Seputar Busana Muslim Kasual

APPMI Promosikan Busana Muslim Lewat LRBM

Keikutsertaan APPMI bukan tak beralasan. Ini dilakukan mereka sebagai upaya untuk membawa busana muslim agar lebih terkenal di kancah internasional.

“Kekayaan alam dan warisan akulturasi budaya Islam Indonesia dapat dijadikan inspirasi kreativitas para desainer muslim Indonesia sehingga dapat menjadi keunikan tersendiri bagi industri fesyen busana muslim di Indonesia di mata dunia,” ujar Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka, Ansari Bukhari, dalam sambutannya saat membuka acara yang berlangsung di Gedung Smesco Indonesia, belum lama ini.

Ansari berharap, busana muslim karya anak bangsa semakin berkembang dan mendunia. Selain Ansari, Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar turut memberikan kata sambutan.

Keikutsertaan mereka menjadi penting mengingat hasil rancangan para desainer Indonesia tak kalah bagus dengan brand dari luar yang telah punya nama.

Sebanyak 15 anggota AAPMI yang berpartisipasi untuk memrepresentasikan koleksi busana muslim dalam dua slot fashion show.

Mereka adalah Jeny Tjahyawati, Hannie Hananto, Toera Imara, Monika Jufry, Lenny Agustin, Hennie Noor, Malik Moestaram, Nuniek Mawardie, Ida Royani, Lia Afif, Anne Rufaidah, Ade Listiany, Fenny Mustafa, Rudy Chandra, dan Defrico Audy.

Busana tahun 60-an dalam siluet cantik melambai beraksen feminin menjadi kekuatan tema rancangan anggota APPMI dari Jawa Barat, Toera Imara. Mengusung tema “Flowing Exotosm”, Toera banyak bermain unsur smok, kerut, dan frill yang dramatis disusun pada beberapa bidang. Sehingga memberikan kesan eksotik di atas bahan-bahan ringan melayang.

Adapun pemakaian unsur chiffon silk, raw silk, seakan mendominasi karakter busana, bersiluet feminin romantis yang diperkuat warna ungu dan merah dalam harmoni yang cantik.

Ethnic Sensation. Begitu tema yang diangkat Hennie Noor dalam perhelatan hari itu.

Henni yang selalu memberikan corak batik dalam setiap rancangan baju muslim menambah kental ciri khasnya bermain motif batik dalam sehelai kain yang penuh warna.

Dipadukan dengan kain chiffon, hasil rancangannya disajikan dalam bentuk gaun yang simpel tanpa kehilangan sensasi modernitas. Henni menambah rancangannya agar tidak berkesan berlebihan dengan bermain ornamen manik dan batu-batuan.

Bertemakan “Mesmerizing Paradise”, Nuniek Mawardi mencoba mengingatkan manusia agar tidak serakah dengan kecanggihan teknologi.

Ketika bumi telah rapuh oleh keserakahan manusia dan manusia mulai bosan dengan kebekuan teknologi canggih yang menghimpitnya, manusia pun mulai kembali melihat jejak pendahulunya, mencari kesamaan putaran takdir guna mencari jawaban permasalahannya.

Menelisik kembali era tahun 1860-1880, era yang menjadi awal perkembangan pesat peradaban manusia berkat teknologi. Adalah masa ketika manusia yang terkungkung oleh mekanisasi Revolusi Industri busana muslim berusaha menemukan kembali sisi humanisnya.

Ketika aliran seni Pre-Raphaelite Brotherhood berusaha mencari jawaban dalam imajinasi nostalgia, kembali ke legenda Yunani Kuno. Diwujudkan dalam koleksi yang menggabungkan gaya Victorian dengan gaya Yunani kuno.

Tertuang dalam gaun chiffon dengan sentuhan draperi dan pleats, terinspirasi dari gelembung khiton dan balutan himation yang merepresentasikan keanggunan khas Yunani kuno. Kian berarti tatkala disandingkan dengan coat tailored ala Victorian dengan lekuk-lekuk khas ala Polonaise dan gelembung lengan nan unik. Paduan femimin dan maskulin yang ditata apik, yang menjadi ciri khas Nuniek Mawardi.

Warna-warna lembut nan elegan seperti warna gading, putih, dan warna pastel yang merepresentasikan nuansa Yunani kuno.

Permainan detail sulaman mempresentasikan kekayaan detail yang menjadi ciri khas aliran seni Pre-Raphaelite Brotherhood, yang juga muncul dalam seni Yunani periode Arkais.

Kelembutan gaya Yunani di dalam coat bergaya tailored Victorian menyampaikan pesan bahwa setinggi dan sebesar apapun pencapaian manusia yang dimungkinkan oleh teknologi, hanyalah kelembutan hati yang dapat meredam keserakahan dan pertikaian. Adalah harapan bahwa segala kemajuan ini akan membawa hal baik bagi alam dan kemajuan peradaban, bukan malah menghancurkannya.

Sementara Lia Afif mengangkat tema “Glamarous Amethyst”.

“Dalam event kali ini, koleksi rancangan saya terinspirasi dari penggambaran wanita seperti batu amethyst. Batu amethyst merupakan batu yang berawarna ungu yang apabila diproses panas akan keluar warna hijau,” papar anggota APPMI dari Jawa Timur ini.

“Seperti layaknya seorang wanita muslimah akan terpancarkan aura dan kecantikannya bagai batu amethyst. Penggunaan bahan-bahan sifon yang memberikan kesan ringan dan melayang. Warna ungu, hijau, peach, dan silver memberikan palet warna tersendiri. Lebih fresh tetapi tidak meninggalkan kesan glamor. Penggunaan manik-manik kaca, payet dan batu-batu marble memberikan kesan etnik,” lanjutnya.

7 August 2009 - Posted by | baju muslim, Berita, busana muslim | , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: