Blog Busana Muslim Kasual

Pusat Informasi Seputar Busana Muslim Kasual

Semaraknya Bisnis Busana Muslim

Di sebuah meja besar yang berisi pola dan lembaran kain, Jenny Rachman Wachjo tampak sibuk berdiskusi dengan seorang karyawannya. Kamis siang itu, aktris layar lebar yang beberapa kali meraih Oscar tersebut tengah mengawasi proses produksi baju muslim miliknya. Di ruang atas berukuran sekitar 15 x 10 meter itu, ada sebanyak 40-an karyawan sedang sibuk bekerja, ada yang tengah menjahit, yang lain memasang mote, sebagian memotong pola, dan sisanya tengah mengepas baju gamis panjang yang hampir selesai di sebuah boneka manekin.

MENJELANG datangnya hari raya Idul Fitri, kesibukan di bengkel kerja Jenny di kawasan Sawangan, Bogor, itu meningkat seiring meningkatnya kebutuhan orang akan busana muslim. Pada awal bulan Ramadan seperti saat ini, pesanan itu perlahan-lahan mulai meningkat dan jam kerja bengkel pun bisa bertambah panjang. Bila biasanya hanya dari pukul 08.00- 16.00, maka selama bulan Ramadan jam kerja bisa berakhir pada pukul 22.00. Jumlah pekerja yang biasanya 70 orang pun bertambah dengan merekrut para ibu dari sekitar bengkel yang bersebelahan dengan rumah tinggal Jenny.

Kesibukan yang sama juga bisa dirasakan di tempat Sessa di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Monika Jufry (28) yang kini melanjutkan usaha desain dan produksi busana muslim yang dirintis ibunya, Gusmi Jufry, menyebutkan bahwa untuk busana muslim puncak permintaan tertinggi sepanjang tahun terjadi pada saat menjelang Lebaran Idul Fitri. Hal ini bisa diduga karena untuk kebanyakan masyarakat Indonesia memang Idul Fitri dianggap hari kemenangan setelah sebulan berpuasa, sehingga pantas dirayakan, salah satunya dengan mengenakan busana yang khusus. Selain itu, berbagai acara silaturahmi dan keagamaan seperti shalat tarawih juga menyebabkan munculnya kebutuhan untuk mengenakan busana muslim.

Menurut Monika, berdasarkan pengalaman tahun lalu selama bulan Ramadan dan Idul Fitri, produksi Sessa meningkat satu setengah kali dibandingkan hari biasa. Selain dipasarkan melalui butik di Jalan Haji Muhi, Pondok Pinang, Sessa juga dipasarkan melalui delapan gerai di Pasaraya, Sarinah Thamrin, dan The Catwalk Kelapa Gading, Jakarta.

Monika menolak menyebut omzet penjualannya, tetapi dia menyebut angka penjualan mencapai 1.500 setel dan potong untuk busana dan 500-an buah untuk pelengkap seperti topi dan kerudung. Harga produk Sessa berkisar dari Rp 400.000 untuk satu setel baju muslimah hingga Rp 1,7 juta-an, sementara untuk pesanan khusus bisa mencapai Rp 3 juta. Bila dirata-ratakan yang terjual adalah busana berharga Rp 600.000-an, Anda bisa hitung sendiri omzet Sessa selama sebulan menjelang Idul Fitri.

DENGAN semakin banyaknya perempuan Indonesia yang memilih mengenakan busana muslim untuk keperluan sehari-hari, semakin semarak pula bisnis busana muslim. Pendatang baru dalam desain dan produksi busana muslim adalah Itang Yunasz yang memperkenalkan produk terbarunya bermerek “Itang Yunasz” yang merupakan label utama, bulan lalu dalam sebuah pergelaran di rumahnya di kawasan Kebayoran Lama.

Meskipun baru diperkenalkan, tetapi sambutan terhadap label ini menurut Itang sangat menggembirakan, bahkan di luar perkiraannya. “Yang mengejutkan terutama permintaan dari daerah-daerah. Dari Kalimantan, yaitu dari Samarinda dan Tarakan, lalu Sumatera dari Medan, Padang, dan Riau, sedangkan Jawa Timur dari Surabaya,” tutur Itang. Permintaan itu bervariasi antara label “Itang Yunasz” dan label “Marakesh” yang merupakan label sekunder Itang. Untuk “Marakesh”, Itang mematok harga rata-rata Rp 450.000 per setel, karena desain dan materi yang dipakai lebih sederhana dibandingkan dengan “Itang Yunasz”.

Terutama untuk Samarinda, para ibu di sana menyerbu produk Itang seperti berbelanja kacang goreng. Dalam dua hari di Samarinda, sekitar 100 setel rancangan Itang habis diserbu para ibu yang sebagian datang dari Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, yang berjarak sekitar 30 menit bermobil dari Samarinda. “Untuk harga, mereka kelihatannya tidak terlalu berhitung, sebab beberapa bahkan minta dibuatkan khusus,” tutur Itang. Tingginya daya beli tersebut tampaknya berhubungan dengan otonomi daerah yang menjadikan Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai salah satu kabupaten terkaya di Indonesia.

Itang menyebut bahwa tingginya permintaan kepada dia untuk juga membuat busana muslim menjadi penyebab mengapa dia menerjuni juga produksi busana muslim. “Saya juga didorong istri saya yang memakai baju muslim untuk membuatkan baju muslim yang tidak bikin pemakainya kelihatan tua. Juga ada permintaan dari beberapa orang yang meminta saya membuat baju muslimah,” tutur Itang.

Jenny Rachman juga menyebut alasan potensi pasar sebagai salah satu alasan yang mendorong dia menerjuni bisnis yang dia mulai sejak tiga tahun lalu itu. “Saya enggak tertarik untuk ekspor, karena potensi pasar di sini besar sekali,” tutur Jenny yang mengawasi sendiri usahanya ini karena tidak ingin gagal.

Sementara itu, Sessa yang lahir sejak tahun 1985, menurut catatan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) di mana Monika menjadi anggotanya, saat ini menjadi salah satu produk busana muslim yang terlaris dilihat dari penjualan di sejumlah gerai di beberapa toko serba ada. Selain menjual di gerai yang dikelola langsung oleh Monika, Sessa juga diminati oleh pembeli luar Jakarta yang membeli produk Sessa untuk dijual kembali. “Mereka itu pemilik butik, ada yang dari Padang, Pekanbaru, Makassar, Banjarmasin. Menjelang Lebaran, mereka ada yang sampai datang dua kali ke sini karena permintaan busana muslimah meningkat,” tutur Monika.

Anne Rufaidah yang juga anggota APPMI menyebutkan bahwa menjelang Idul Fitri omzet penjualannya meningkat 2-5 kali lipat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Sebulan sebelum datangnya bulan Puasa dan selama bulan Ramadan, produksi Anne menjadi 500 setel untuk keenam gerainya, dengan harga antara Rp 200.000-Rp 2 juta.

YANG tidak kalah bergairah menyambut datangnya Idul Fitri adalah para pedagang busana muslimah di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Gita Sobari, pemilik Erni Fashion di los G lantai dasar Pasar Tanah Abang, sudah mendapat pesanan dari berbagai daerah sejak tiga bulan sebelum Lebaran. Permintaan ini akan terus meningkat memasuki dua minggu sebelum Lebaran.

“Orang pesan jauh-jauh hari karena untuk dijual lagi. Kalau untuk dipakai sendiri biasanya mulai ramai dua minggu sebelum Lebaran,” ujar Gita yang telah berjualan di Tanah Abang sejak enam tahun lalu.

Setiap tiga hari sekali Gita mengirim10 kodi busana muslim ke berbagai daerah, seperti Pontianak, Surabaya, dan Pekanbaru, dengan harga antara Rp 600.000 sampai Rp 1 juta per kodi. “Tergantung bahan dan ukuran yang diinginkan. Yang Rp 1 juta itu biasanya setelan, sedangkan yang Rp 600.000 itu blus panjang saja. Kalau hanya beli per helai, harganya Rp 50.000 sampai Rp 200.000,” jelas Gita sambil menunjukkan busana muslim berbahan sutra. Busana muslim tersebut dibeli Gita dari pedagang grosir di Surabaya dan sebagian lainnya dia buat di bengkel kerjanya di Jakarta.

Meskipun permintaan semakin meningkat menjelang Lebaran, menurut Gita, jika dibandingkan dengan tahun lalu penjualan busana muslim di Tanah Abang menurun sekitar 20 persen setelah kebakaran besar di Tanah Abang bulan Februari lalu. Pasalnya, lokasi Tanah Abang setelah kebakaran tak lagi dirasa nyaman. “Sekarang kan lokasinya jadi lebih sempit dan banyak perbaikan. Jadi mungkin orang malas ke sini. Pokoknya lebih bagus tahun lalulah,” keluh Gita.

Hal senada diungkapkan Ny Jaya yang membuka toko khusus busana muslim di lantai dasar. Meskipun pelanggan kesulitan mencari letak tokonya yang baru, tetapi pelanggan yang menelepon tidak berkurang. “Pesanan dari daerah kami terima lewat telepon dan langsung kami kirim. Itu karena sudah langganan. Kalau pembeli baru, pasti datang dulu dan lihat seperti apa busana muslimnya,” jelas Ny Jaya yang memiliki pelanggan antara lain dari Makassar, Medan, dan Gorontalo. Setiap satu bulan sekali, biasanya pesanan mencapai 30 kodi dengan harga Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.

Permintaan busana muslim semakin meningkat menjelang bulan Ramadan sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. “Tetapi, setelah itu ya sudah biasa lagi. Adem-adem gitu,” papar dia.

MESKIPUN busana muslimah memiliki aturan tertentu yang harus diikuti, yaitu garis-garis rancangannya tidak mengikuti bentuk tubuh serta tidak memperlihatkan bagian tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, tetapi bukan berarti busana muslimah tidak bisa mengikuti perkembangan mode. Begitu juga dengan busana muslim untuk laki-laki, walaupun umumnya berupa baju koko yang diberi bordir, tetapi ada variasi detail yang membuat busana ini berbeda dari yang sudah ada sebelumnya. Dengan kata lain, busana muslimah dan busana muslim di sini juga dirancang mengikuti perubahan arah mode.

“Permintaan yang datang ke saya adalah untuk membuatkan busana muslimah yang tidak berat dan tidak membuat pemakainya jadi tampak tua. Dan, busana muslimah dengan ikatan aturannya itu juga bisa dikembangkan mengikuti arah mode,” tutur perancang busana senior Itang Yunasz.

Itang mencontohkan penggunaan kain sutra sifon yang diramalkan akan menjadi mode kembali, akan sangat cocok dengan busana muslim. “Biarpun harus memakai kain sifon dengan berlapis-lapis, tetapi jatuhnya akan tetap terlihat ringan,” tutur Itang yang menggunakan warna seperti merah jambu muda, krem, putih, dan ungu, untuk koleksi “Itang Yunasz”-nya. Itang juga menggunakan hiasan berupa perca maupun payet serta teknik potong asimetri untuk busana muslimahnya.

“Perempuan Indonesia juga aktif berada di luar rumah, sehingga mereka butuh baju yang bisa mendukung aktivitas itu,” papar Itang tentang pemilihan bahan sifon yang ringan dan tidak panas ketika dipakai.

Meskipun tidak memiliki pendidikan formal sebagai perancang busana, tetapi Jenny Rachman dengan menggunakan pengalamannya membuat sendiri rancangan busana muslimahnya yang terdiri dari dua label, yaitu JR Barokah untuk yang berharga Rp 100.000 sampai Rp 200.000 per potong serta merek JR Gallery muslim untuk yang berharga Rp 1 juta sampai dengan Rp 6 juta. Bila dia sedang sangat produktif, sehari bisa 15 rancangan dia hasilkan.

Sama seperti pengakuan Itang Yunasz, menurut Jenny tantangan yang dia hadapi adalah bagaimana menghilangkan kesan kampungan pada busana muslimah. “Tantangan untuk saya adalah bagaimana membuat busana muslimah yang mengikuti mode, tetapi tidak meninggalkan aturan,” tutur Jenny.

Untuk menjawab tantangan itu, Jenny mencari inspirasinya dari karya perancang-perancang internasional. “Misalnya ketika gue melihat baju rancangannya Valentino, itu memancing gue untuk berkreasi,” papar Jenny yang mengontrol sendiri semua kontrol kualitas produknya dan sementara ini tetap ingin berproduksi dalam skala usaha menengah bersama total seluruh karyawannya yang 70 orang itu.

Adapun Monika Jufry yang sarjana Manajemen Ekonomi dan selama 10 bulan belajar desain busana di Susan Budihardjo, itu memilih desain busana yang sederhana bergaris lurus dengan hiasan bordir minimal serta berbentuk abstrak. “Supaya ada variasi, dan ternyata pelanggan suka desain yang lebih sederhana,” tuturnya.

Untuk Idul Fitri, Monika menawarkan busana dengan hiasan sulam kepala samek (kepala peniti) yang dibuat di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sedangkan untuk baju koko, dia mempersiapkan kain tenun tangan dengan bahan sutra yang dicampur serat nanas sehingga tenunnya itu sudah membentuk motif. “Kami mencoba menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda,” tutur Monika.

Di Tanah Abang pun kesadaran akan desain sampai batas tertentu telah menjadi kesadaran para pedagang/ produsen. Menurut Gita, saat ini mode busana muslimah yang tengah disukai berbentuk kebaya, kain sari India, dan gamis (busana panjang seperti tunik untuk perempuan ). Soal mode busana muslim, kata Gita, setiap hari bisa berganti. Makanya setiap penjahit harus kreatif utak-atik sendiri dan melihat-lihat di majalah kira-kira model apa yang disukai dan laku terjual. “Meskipun modelnya mengikuti yang ada di majalah, tetapi dibuat lain di bordiran atau hiasan kecil di bajunya,” tutur Gita menjelaskan kiatnya membuat produknya berbeda dari produk penjual lainnya di Tanah Abang. (LUK/EDN/ARN/NMP)

Sumber : www2.kompas.com

7 July 2009 - Posted by | artikel, info

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: