Blog Busana Muslim Kasual

Pusat Informasi Seputar Busana Muslim Kasual

Sentuhan Busana Muslim Etnik nan Glamor

Busana muslim kadang dipandang sebagai sesuatu yang sectarian dan patut dijauhi. Beranjak dari itu, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) terus mengembangkan dan mempopulerkan jenis busana muslim ini.

Selain bersyiar, dalam terminologi Islam, APPMI juga menyadari bahwa usaha di bidang ini belum sepenuhnya terbangun. Selain busana muslim yang ringan, para perancang juga menawarkan busana muslim cocktail hingga gaun pernikahan.

Untuk itu, APPMI menggelar parade show dalam Jakarta Fashion & Food Festival 2009. Salah satunya “Heavenly Touch”, yaitu pagelaran khusus busana muslim. Ada delapan desainer yang berpartisipasi di dalamnya.

Merry Pramono merupakan salah seorang desainer yang ikut dalam parade busana muslim tersebut. Merry mengusung tema “Cahaya Tenun Mataram” ready to wear, etnik, dan multiwarna.

Tenun Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berserat tebal dalam aplikasi twist disulap Merry untuk rancangannya kali ini.

“Inspirasi saya ambil dari busana tradisional NTB yang biasa digunakan oleh para wanita Mataram untuk acara resmi, seperti pernikahan atau acara adat lainnya. Saya juga mengambil inspirasi dari tenun NTB dengan ciri khas warna-warna terang, seperti biru, hijau, dan merah,” ungkapnya usai parade show “Heavenly Touch” di La Piazza, Mal Kelapa Gading, Jakarta, baru-baru ini.

Merry mengaplikasikan tenun dalam potongan kecil sebagai detail busana, seperti di bagian bahu, rok, dan penutup kepala.

“Karena tenun itu sudah berat, bahannya tebal, beda dengan batik. Kalau busana hanya menggunakan tenun dari atas sampai bahan, kesannya berat dan panas,” terang Merry.

Bersama Merry, desainer yang juga unjuk karya adalah Ade Listiany. Mengusung tema “Entourage, Ade mengambil inspirasi dari baju Yunani dengan pemakaian sulaman bayangan, tusuk peniti, dan sulaman kait khas Sumatera Barat.

Tak mau ketinggalan dengan kedua desainer lainnya, Defrico Audy (Puan by Defrico Audy) mengangkat tema East Opulence. Tema tersebut diambil berdasarkan inspirasi gaya hidup bangsawan Timur Tengah yang glamor, tapi tetap Islami. Serta gaya busana pernikahan untuk muslimah yang sangat kaya detail dan edgy.

Ia menggunakan warna putih, offwhite, dan champagne dengan detil frill, bunga, Swarovski, bead, dan rainbow. Hasil karyanya ditujukan untuk wanita mapan dengan karakter glamor dan edge serta memasukkan etnik dari unsur budaya Indonesia.

Melengkapi pagelaran tersebut, Herman Nuary mengusung tema “Legenda Sang Maestro” dengan mengambil inspirasi dari artis-artis dan penari era 70-an.

“Betapa cantik dan anggun saat mereka tampil di pentas, baik panggung hiburan maupun teater,” ungkapnya.

Untuk material yang digunakan Herman ialah sifon sutera dipadu batik-batik Nusantara. Mengambil motif dari berbagai daerah, antara lain Madura, Solo, Pekalongan, dan Kalimantan, rancangannya diperkaya dengan detail.

Adapun detail yang digunakan lebih mengutamakan bahan batik yang dibordir dan dijadikan aplikasi, dipercantik dengan payet, mote-mote, dan batu alam.

Irna Mutiara hadir dengan tema “Neo Exotic”. Hasil rancangannya itu terinspirasi keeksotikan Afrika yang hanya menggunakan bahan lurus tanpa detail namun kaya warna, seperti biru, tosca, orange dipadu unsur warna silver, siluet slim, dan H-line. Detail yang ditampilkan adalah pemasangan beads, sulaman benang, dan print motif tribe. Irna menghadirkan nuansa ini dalam tampilan baru (neo).

Panggung semakin menarik saat Lia Afif mengusung tema “Anjuk Ladang Anggana Raras”. Dengan inspirasi menyentuh budaya dan melestarikan pusaka, Lia merangkul batik dengan motif khas yang menggambarkan prasasti Anjuk Ladang dari Kabupaten Nganjuk.

Pusaka daerah ini digabungkannya dengan bahan eksotis, yaitu sutra sifon, Thomson silk, sutra Dupioni, dan sutra taffeta. Detail yang digunakan adalah batu Swarovski, manik-manik India, manik-manik kaca produksi dalam negeri, serta payet yang dirangkai dalam bentuk oval serta bulat sehingga memunculkan warna hijau, cokelat, dan emas.

“Sentuhan manik-manik kaca buatan tangan sebagai aksennya, akan membuat busana semakin tampak nilai eksotiknya,” ujarnya.

Di pengujung pagelaran, Nuniek Mawardi hadir dengan mengusung tema “Omorfprada”, sebagai perkawinan antara budaya Bali dengan Yunani.

Sementara Toera Imara menutup peragaan busana muslim dengan tema “Enchanting Beauty of Dayak”. Mengeksplorasi eksotika budaya daerah pedalaman Kalimantan Timur (suku Dayak), sebuah alat berupa Tameng Pedang Mandau berpola meruncing diaplikasikan pada gaun dan blus era 1960-an itu.

Adapun pemilihan warna yang digunakan adalah ungu tua, hitam cokelat dipilih sebagai warna eksotik tahun 2009, di atas kain sutra tenun khas Kalimantan, katun lokal, dan sifon sutra.

Sumber : Okezone

8 June 2009 - Posted by | Koleksi

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: