Blog Busana Muslim Kasual

Pusat Informasi Seputar Busana Muslim Kasual

Jilbab dan Busana Muslim Untuk Berpesta

Penetrasi busana muslim semakin agresif terlihat, bukan hanya di lini busana kasual, juga di lini busana pesta. Evening wear pun menjelma menjadi high fashion, konsep eksklusif busana muslim.

Maraknya busana muslim bergaya mewah, mirip gaun malam, menunjukkan semakin terkikisnya stereotip old fashion pada busana muslim saat ini. Konsep busana pesta muslimah pun terbentuk, menjadi celah pasar bagi desainer, bukan hanya perancang busana muslim, juga desainer busana kontemporer. Penggarapan moslem evening wear ini terlihat marak di berbagai pergelaran busana, baik pertunjukan tunggal maupun kompilasi beberapa desainer sekaligus.

Tuty Adib, dalam peluncuran brand Bilqist di Pasaraya Grande, Jakarta , beberapa waktu lalu, mempersembahkan rangkaian busana muslim glamor dalam cutting simpel. Mewah, difokuskan pada permainan detail, seperti halnya payet, kristal, maupun manik-manik. Lainnya, Tuty memusatkan pada warna. Penggunaan palet catchy, seperti merah, tembaga, ataupun hitam yang disemarakkan detail kilau.

Di perhelatan Jakarta Fashion Week-Festival Mode Indonesia (JFW-FMI) beberapa waktu lalu, moslem evening wear juga terlihat mendominasi koleksi para desainer, pun di hajatan Fashion Exploration 2009, Desember lalu. Hannie Hananto, Merry Pramono, Jenny Tjahyawati, Savitri, Monika Jufri, dan Iva Latifah mempersembahkan rangkaian busana muslim untuk pesta ataupun acara formal. Malah, Irna Mutiara mempersembahkan full range collection busana pengantin muslim, sementara Jenny dan Merry menghadirkan koleksi busana pengantin sebagai grand finale.

Dari situ, kita bisa melihat betapa jauhnya perkembangan busana muslim sejak tahun 1980-an, di mana busana muslim masih dipandang sebelah mata. Kini, agresivitas busana muslim malah mendekati para perancang busana kontemporer.

Contohnya di pergelaran Islamic Fashion Festival (IFF). Di hajatan mode islami yang diprakarsai oleh Dato Raja Rezza Shah tersebut, desainer muda Indonesia berlomba-lomba menciptakan baju muslim dengan genre yang berbeda. Bila selama ini pergelaran busana muslim lebih banyak mengetengahkan koleksi sehari-hari alias daily wear, di IFF justru yang lebih ditonjolkan adalah busana malam atau evening wear.

Biyan, Sebastian Gunawan, Musa Widyatmodjo, Barli Asmara, Adesagi, Andy Saleh, dan Defrico Audy, nama-nama yang biasanya berkibar di ranah mode kontemporer, menghadirkan koleksi busana muslim penuh gaya, bersanding dengan desainer-desainer kenamaan Malaysia.

Kendati berbasis rancangan busana kontemporer, rangkaian jilbab dan busana muslim yang disajikan ke atas catwalk bisa dibilang masih mengikuti kaidah islami, dalam artian tidak transparan, tidak ketat memeluk tubuh, dan menutupi aurat. Dengan piawai, mereka menghadirkan ragam busana penuh detail namun tidak lepas dari nafas etnik.

Mereka meramu kain-kain tradisional Indonesia menjadi koleksi busana yang mengikuti kaidah islami tapi tetap berkesan kontemporer. Sebut saja Biyan yang menghadirkan rangkaian gamis, abaya, juga tunik panjang dalam motif floral berornamen cantik. Tidak jauh berbeda dengan Sebastian Gunawan yang menyajikan koleksi floral dengan sentuhan corak paisley dan embellishment kristal.

Barli, Adesagi, dan Shahreza Muslim sepakat menyuguhkan busana muslim bergaya feminin lewat permainan draperi, lace, serta detail ruffles. Sementara Defrico Audy menyodorkan nuansa eksotis melalui warna-warna solid seperti hijau, marun, ungu, serta biru yang dihiasi tassel, tali kepang, juga teknik origami. Andy Saleh mengeksplorasi keindahan sarung Bugis yang ditampilkan dalam potongan gaun malam nan anggun. Tidak lagi tampak kesan kuno dan monoton yang biasanya identik dengan busana muslim.

Para perancang pun tak ragu menyodorkan barisan warna yang lebih meriah. Lupakan tone-tone kalem yang biasanya menjadi warna dominan busana muslim. Sebaliknya, ragam warna menyeruak agresif. Merah, hijau, kuning, oranye, ungu, serta biru silih berganti menyambangi catwalk, bergantian dengan emas, perak, dan hitam.

Founder & Chairman IFF Dato Raja Rezza Shah mengungkapkan, pergelaran reguler yang dihelat di Kuala Lumpur, Jakarta, dan Dubai itu memang dimaksudkan untuk memperkenalkan islamic fashion pada dunia internasional. Perkenalan ini pun tidak dilakukan dengan cara gamblang, melainkan melalui pendekatan halus, tanpa paksaan, yang dikemas dalam bahasa mode nan universal. “Yang terpenting masyarakat dunia tahu mengenai islamic fashion. Bahwa busana muslim pun bisa mengikuti mode,” ucapnya.

Rezza membebaskan para desainer yang terlibat untuk menginterpretasikan islamic fashion sesuai visi masing-masing. “Tidak harus tertutup semua. IFF menghadirkan gaya yang bervariasi, baik yang hanya ditutupi selendang atau tertutup sepenuhnya,” jelas Rezza.

25 May 2009 - Posted by | Koleksi, Tips

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: